13. Memahami di-ma’fu-nya kotoran burung yang sering ditemui di Musholla atau Masjid.


 


Dalam kitab Fathul Mu’in dijelaskan bahwa : dihukumi ma’fu (tidak wajib disucikan) kotoran kering dari seluruh jenis burung di suatu tempat apabila hal itu sudah menjadi sesuatu yang sulit dihindari (merata dan umum terjadi). Dalam hal ini ulama menejelaskan adanya beberapa hal yang harus dipenuhi :

1. Tidak ada unsur kesengajaan untuk menyentuhnya

2. Tidak terdapat kelembapan /unsur basah dari salah satu pihak (baik pada kotoran maupun pada hal yang mengenainya).”

3.  Sulit untuk menghindarinya.

Penting difahami juga bahwasanya :

1. Adanya kotoran tersebut tidak diharuskan menyebar diseluruh tempat, semisal masjid atau musholla, artinya meskipun kotoran tersebut berada pada sebagian tempat saja semisal dekat dengan jendela yang memang menjadi tempat hinggap burung setiap hari, maka itu sudah mencukupi konteks sulit dihindari, sebagaimana telah ditegaskan oleh al-Halabi dalam al-Manhaj. Yang dimaksud dengan “ umumul balwa ” menurut ulama yang mensyaratkannya hanyalah adanya kesulitan untuk menghindarinya. Dan Imam Ar-Ramli dalam fatwanya menegaskan yang dimaksud dengan “ umum al-balwa “ adalah banyaknya (kotoran tersebut) di tempat yang biasanya dituju, sehingga apabila kita dibebani untuk berpindah dari temapat tersebut ke tempat lain, niscaya hal itu akan menimbulkan kesulitan (haraj).

2.  Kita tidak diharuskan menghindar dari tempat yang banyak kotoranya tersebut, maksudnya Adalah apabila kotoran tersebut banyak terdapat di masjid atau di tempat lainnya sehingga sulit untuk menghindarinya, maka seseorang tidak dibebani untuk mencari tempat lain. Bahkan jika sebagian area masjid bersih dari kotoran dan dia memungkinkan untuk shalat di sana, dia tetap tidak diwajibkan (untuk pindah), melainkan dia boleh shalat di mana saja sesuai keberadaanya, meskipun tepat berada di tempat yang terdapat kotoran burung. Hal ini berlaku secara jelas apabila kotoran tersebut telah merata di seluruh tempat. Namun, jika masjid misalnya terdiri dari dua sisi, yang satu bersih dari kotoran dan yang lainnya terdapat kotoran, maka wajib menuju ke sisi yang bersih untuk melaksanakan shalat di sana, karena tidak ada unsur kesulitan.

 

فتح المعين - (ج 1 / ص 126)

ويعفى عما جف من ذرق سائر الطيور في المكان إذا عمت البلوى به.

 

إعانة الطالبين - (ج 1 / ص 97)

قوله: ومكان يصلى فيه) أي وطهارة مكان يصلى فيه، ويستثنى منه ما لو كثر ذرق الطيور فيه، فإنه يعفى عنه في الفرش والارض بشروط ثلاثة: أن لا يتعمد الوقوف عليه، وأن لا تكون رطوبة، وأن يشق الاحتراز عنه.

 

حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب (1/ 440)

والحاصل أنه يعفى عن ذرق الطيور بشروط ثلاثة: أن لا يتعمد إمساسه، وأن لا تكون رطوبة من أحد الجانبين،

وأن يشق الاحتراز عنه، وأما عمومه المحل فليس بشرط كما صرح به الحلبي على المنهج والمراد بعمومه عند من شرطه مشقة الاحتراز عنه اهـ. قوله: (للمشقة) وأشار بذلك إلى أن ذلك هو المراد بالعموم في قول بعضهم شرط العفو عموم البلوى به، فقد قال م ر في فتاويه: المراد بعموم البلوى كثرته في ذلك المحل المقصود عادة بحيث لو كلفناه العدول عنه إلى غيره لأدى إلى الحرج اهـ

 

حاشية الشرواني

(قَوْلُهُ لَا يُكَلَّفُ تَحَرِّي غَيْرِ مَحَلِّهِ) أَيْ فَحَيْثُ كَثُرَ فِي الْمَسْجِدِ أَوْ غَيْرِهِ بِحَيْثُ يَشُقُّ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ لَا يُكَلَّفُ غَيْرَهُ حَتَّى لَوْ كَانَ بَعْضُ أَجْزَاءِ الْمَسْجِدِ خَالِيًا مِنْهُ وَيُمْكِنُهُ الصَّلَاةُ فِيهِ لَا يُكَلَّفُهُ بَلْ يُصَلِّي كَيْفَ اتَّفَقَ وَإِنْ صَادَفَ مَحَلَّ ذَرْقِ الطَّيْرِ وَهَذَا ظَاهِرٌ حَيْثُ عَمَّ الذَّرْقُ الْمَحَلَّ فَلَوْ اشْتَمَلَ الْمَسْجِدُ مَثَلًا عَلَى جِهَتَيْنِ إحْدَاهُمَا خَالِيَةٌ مِنْ الذَّرْقِ وَالْأُخْرَى مُشْتَمِلَةٌ عَلَيْهِ وَجَبَ قَصْدُ الْخَالِيَةِ لِيُصَلِّيَ فِيهَا إذْ لَا مَشَقَّةَ كَمَا يُعْلَمُ مِمَّا ذَكَرَهُ فِي الِاسْتِقْبَالِ

 

 

 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. Batasan Usia Sentuhan Lawan Jenis Bisa Membatalkan Wudlu

9. Gumoh (jawa), Muntahan bayi.

3. Koreksi Naskah Fathul Muin, Lafad مجففا yang benar محققا